Karya Tulis Kelompok WS Rendra SMP Negeri 3 Padalarang Bulan Februari 2023
1. Jenis Karya : Cerpen
Penulis : Rafika Ayu Fitriani, S.Pd
Judul : Celengan Rindu
"Aku rindu, Far!".
Lagi-lagi, terucap dari bibir manis Fienna pada Farzan . Hampir setiap hari bertemu, tapi hampir setiap hari pula Fienna tak pernah absen berkata rindu, kadang terucap langsung dihadapan Farzan atau melalui ketikan yang selalu menghiasi dinding gawainya.
"Ya, Aku juga rindu, Fi. Ku hitung, ini ke empat kalinya kamu bilang rindu dihari ini, hobi sekali ya, padahal aku dihadapanmu sekarang, apa lagi kalau.....".
"Kalau apa? Jangan bilang kamu mau pergi Far".
"Aku gak akan kemana mana kok, tenang aja. Tapi, kayanya untuk beberapa hari kedepan, aku akan sering tidak memenuhi kebutuhan temu kita".
"Maksudmu? Sudah ah jangan bercanda, mending kita beli es krim disana!".
"Kamu pernah janji gak akan boros lagi kan Fi, tadi kan sudah beli minuman dingin, sekarang mau beli eskrim?".
"Tidak Fi, cukup. Lebih baik dengarkan, ada yang ingin aku sampaikan".
"Ah, kamu ini!".
"Aku pernah bilang kan, aku mau kuliah diluar Negeri. Rencananya besok mulai mengurus beberapa persyaratannya".
"Tuh kan kamu mau pergi, malah lebih jauh dan lebih lama dari yang aku kira, nanti aku rindu Far".
"Ini demi masa depan. Walau beberapa makna rindumu itu temu yang tidak terpenuhi nantinya, aku tetap setia setiap hari membalas rindumu dengan doa yang terbaik".
"Ah, cepat pulang, Far".
"Loh, kan aku belum berangkat Fi, kok sudah minta pulang. Jangan-jangan nanti hobimu bertambah selain selalu berucap kata rindu".
"Bertambah bagaimana?".
"Ya, nanti bakal sering bilang pulanglah Far, Pulang, Hahaha".
Kala itu Farzan malah senang sekali rasanya mengusili Fienna, tapi tak ada lengkung senyum sedikit pun dari bibir Fienna. Malah sedikit berlinang air matanya, dan tiba-tiba melamun. Apa lagi beberapa hari dengan temu yang tidak terpenuhi dan pesan singkat rindu pun lama berbalasnya, karena sibuknya Farzan mengurus persyaratan dan keberangkatannya. Ini menjadi hal yang sangat membuat kesal batin Fienna, tapi sekaligus melatih rindunya, apalagi setelah nanti susah untuk sekedar menghubungi, jarak menyuruh hobinya mereda.
"Aku pamit ya Fi".
"Aku bakal rindu kamu Far".
"Pasti. Oh ya, aku ada sesuatu buat kamu, nih! sambil mengeluarkan sebuah celengan".
"Loh, kok aku dikasih celengan, buat apa Far?".
"Gunanya celengan ya buat nabung Fi. Kamu kan terkenal boros, jadi aku mau kamu sering nabung. Nanti kalau tabungannya udah penuh, kamu pakai uangnnya buat nyusul aku kuliah disana, nanti kan biar rindu kamu juga terobati, dan kalau mau menemui aku disana, bawa celengan ini ya!".
"Eh, kok pakai tulisan bilang rindunya segala disini?".
"Oh, sengaja aku kasih tulisan itu, biar nanti setiap kamu bilang rindu kamu harus masukkan uang kedalam celengan itu. Kan, kamu sehari saja lebih dari tiga kali bilang rindu, jadi pasti cepat penuh tuh celengannya, hahaha".
"Ah kamu ini, sudah tau aku paling tidak bisa menabung. Oh ya, kalau aku ingin menemuimu nanti, aku harus kemana?".
"Berubahlah, Fi. Itu demi kebaikanmu. Sudah tau, aku paling tidak suka kamu menghamburkan uang. Kalau ingin menemuiku, tunggu saja dibandara, dan pecahkan celengan itu disana. Janji ya di isi?".
"Baiklah, aku janji Far".
"Aku pegang janjimu Fi".
Dari cerita pamit dan celengan rindu itu, sehari-hari Fienna merasa kesal, karena rindunya harus diredam. Sehari saja Farzan tak berkabar, waktu Fienna rasa seperti menunggu seekor siput sampai kefinal saat berlomba dengan seekor monyet. Dan ternyata, setiap kata rindu terucap pun, Fienna tak pernah mengisi celengan itu dengan alasan punya cukup uang untuk tiket pesawat , jika sesekali ada rindu yang mendesaknya berangkat menemui Farzan. Selain alasan itu, sebenarnya Fienna dikenal gadis yang boros, dan itu salah satu sifat yang tidak disukai oleh Farzan, bahkan pernah membuatnya memutuskan hubungan.
Anehnya, beberapa bulan berlalu tanpa temu, dan tanpa pesan singkat berbalas rindu. Membuat Fienna dihantui rasa cemas setiap saat. Bahkan suatu hari Fienna berniat menyusul Farzan, tapi hanya balasan singkat penuh duri yang ia terima.
Diujung pengeras suara gawai, "Belum bisa bertemu, aku belum rindu, maaf celengan itu pun masih kosong bukan?"
Sontak batin Fienna terkoyak, sambil berpikir, dari mana Farzan tau bahwa ia tidak pernah mengisi celengan itu. Disamping itu, ada hatinya yang terluka, ketika kata tidak rindu itu terucap, dan ini bukan hal yang pernah ia terima sebelumnya. Pada saat setiap hari bertemu pun, Farzan selalu menitipkan rindunya pada Fienna, anehnya sekarang saat jarak sangat memutuskan tali rindunya, Farzan malah sedikit pun tak merasa rindu.
{Aku tak suka, setiap kali aku melangkah aku berpapasan dengan RINDU.
Aku pun takut bila RINDU menyapaku, yang aku ingin temui itu kamu bukan RINDU, yang ingin aku tegur sapa itu kamu bukan RINDU. Apa kau kenal RINDU?. Saat nanti kita bertemu akan ku perkenalkan RINDU padamu. Saat aku bilang Aku ini RINDU, kau malah bilang titip rindu saja ya. Harusnya jangan kau titipkan rindu padaku, sebab rinduku sudah berat. Simpanlah masing-masing, hingga berdebu sekali pun. Mungkin, suatu saat kita akan bersihkan bersama-sama. Sebenarnya bisakah kau hadiahi sebuah temu untuk rindu? Tidak bisa? Temu untuk rindu itu kau tolak mentah, aku telan saja, ya rasanya cukup pahit memang. Padahal telah banyak luka-luka yang terajut karena rindu yang tak berujung temu. Ibarat telah ku siapkan Mawar, kau menolaknya karena berduri, padahal duri itu telah lebih dulu melukaiku. Aku menyesal telah berwujud RINDU}.
--Catatan Fienna--
Pada bulan ke dua belas dari hari pamit itu, mereka menerka keadaan sepi sendiri-sendiri, Fienna tidak bisa tinggal diam menggantungkan harapannya pada jarak. Fienna, memutuskan untuk menemui Farzan, dengan uang yang ia yakini cukup untuk sekali keberangkatannya menuju negeri sebrang dan celengan rindu yang penuh dengan rindunya, ia benar benar berangkat.
"Hallo Far, aku sudah sampai dibandara, ayolah cepat temui aku, aku rindu!".
"Pecahkan dulu celengan itu, didalamnya ada tulisan, semoga kamu mengerti, Fi".
Fienna pun memecahkan celengan itu dan membaca tulisan yang ada didalamnnya.
(Pasti celengan rindu ini tak pernah kau isi kan?
Maaf, aku tidak bisa menemuimu lagi.
Bukan tentang pelajaran menabung yang bisa kau ambil,
Tapi tentang menepati janji.
Aku pamit, dari orang boros dan ingkar janji.
Semoga kamu bisa menjadi lebih baik lagi)
Setelah membacanya, Fienna sangat terpukul. Kisah kasihnya, benar-benar telah berakhir hanya karna sebuah celengan rindu. Fienna banyak belajar dari kisah pamit ini, dia tidak bisa memaksa untuk menyerah atau tidak menyerah. Lalu perkara sakit hati itu sudah menjadi resiko. Dan jangan pernah mencoba menjatuhkan hati, bila tak sanggup menerima kemungkinan-kemungkinan lumpuh diakhir perjalanan.
2.Jenis karya : cerpen
Penulis : Tina Herawati
Kelompok : WS.Rendra
Judul : harus bersikap jujur
Pagi ini semua murid sudah memasuki kelasnya masing masing,dikarenakan waktu belajar akan segera mulai.
Regi dan Reza sedang belajar matematika karena hari ini akan ada ulangan matematika.sementara adit,putra,dan Raka mereka malah bercanda dan tertawa tawa.
"Selamat pagi anak-anak,hari ini kita akan ulangan harian" ujar Bu Yuni guru mata pelajaran matematika
"Baik Bu" jawab semuanya
Bu Yuni pun mulai membagikan kertas ulangan,regi dan Reza pun saling berpandang seolah mengatakan yang tadi kita pelajari ada di soal ini,berbanding terbalik dengan adit,putra dan Raka mereka kebingungan bagaimana cara mengerjakan soal ini.
"Stt adit kamu tau gak ini caranya gimana" kata Raka kepada Adit
"Aduh aku juga gak tau Raka aku tadi gak belajar" kata Adit sambil berbisik
"Putra kamu tau cara mengerjakan soal ini" kata Raka kepada putra
"Aku gak tau kan aku tadi gak belajar" kata putra
"Aduhh gimana ya aku gak bisa mengerjakan nya" kata Raka gelisah
"Aku tauu,bagaimana kalau kita buat contekan saja" ujar Adit kepada Raka dan putra,mereka pun setuju dan langsung mengerjakan soal itu dengan contekan yang mereka buat
Akan tetapi rencana mereka tak berjalan dengan mulus,Bu Yuni berkeliling untuk melihat siswa siswi nya karena takut ada yang menyontek,Bu Yuni sangat kaget melihat adit,Raka dan putra mengisi soal dengan contekan di tangan nya
"Kalian nyontek!!" Kata Bu Yuni sedikit berteriak membuat siswa siswi yang ada di kelas itu menoleh ke arah sumber suara
"Kita gak nyontek ko Bu,iya kan Adit,putra" kata Raka sedikit gugup
"Iya Bu kita gak nyontek" kata Adit
"Gak nyontek bagaimana sudah jelas-jelas kalian memegang contekan" kata Bu Yuni sedikit marah
"Sekarang kalian berdiri di lapangan ulacara dan hormat sampai pelajaran ibu selsai" kata Bu yuni,Adit,Raka dan putra pun menurut.regi dan Reza yang melihat itu menggeleng gelengkan kepala akibat perilaku tidak jujur yang di lakukan oleh temannya itu
Bel sudah berbunyi menandakan pelajaran Bu Yuni sudah selsai tetapi Adit,Raka dan putra masih belum di suruh untuk masuk ke kelasnya kembali,regi dan Reza pun berinisiatif untuk melihat ke lapang upacara
"Kalian belum di suruh masuk ke kelas lagi?" Tanya regi
"Belum,padahal aku sudah sangat pusing" kata putra
"Makanya lainkali kalo ada ulangan itu belajar dulu jangan menyontek kan kena hukuman" kata Reza
"Iya,kita nyesel udah gak jujur tadi" kata Raka dengan raut wajah yang menyesal
3.Jenis Karya : Puisi
Nama Penulis : Silfa Diniyaningsih
Kelompok : WS Rendra
Judul : Surya
untuk yang bersembunyi di balik awan
sang cahaya kehidupan
warnai kehidupan dengan sinar
sang pemberi manfaat
gugurkan awan hitam yang merajalela
untuk membuat seisi jagat raya senang
saat senja datang
waktunya untukmu berisitirahat
4.Jenis Karya : Puisi
Nama Penulis : Silfa Diniyaningsih
Kelompok : WS Rendra
Judul : Kekasih yang jauh disana
makhluk ciptaan tuhan yang sempurna
ku ukir cinta ini untuknya
cinta dan kasih ku curahkan
walau engkau jauh disana
kutitip rindu kepada bumantara
melalui sendyakala untuk tuan
yang mampu memberiku adiwarna
melalui aksara yang tuan rangkai
5.Jenis Karya : Cerpen
Nama Penulis : Silfa Diniyaningsih
Kelompok : WS Rendra
Judul : Kurcaci Kurcaci Hebat
Di suatu malam yang indah, terdapat 5 kurcaci kecil bernama Doni, Dodo, Lala, Lintang, Bimo. Mereka tinggal di sebuah hutan asri nan aman.
Namun tidak lama ada berita buruk yang datang dari Dodo,
"Kawan kawan gawat sekaliii" ucap dodo panik
"Kenapaa sih doo, tenang dulu napa" sambut Lala santai
Doni, Lintang, dan Bimo bingung melihat Dodo yang datang dengan wajah panik.
"in-inii pem-pem pem-buruu da-tang ke hutan kita" kata Dodo dengan terbata bata
"APAAA??!" sontak mereka menjawab dengan serentak
"Bagaimana ini bagaimana, incess takutttt" Lala yang mulanya santai menjadi heboh
"Kamu tau dari mana do?? jangan menyimpulkan sesuatu yang tidak pasti" kata lintang bijak
"jangan bilang begitu dong doo, nanti aku ga bisa makan buah enak di hutan ini lagii" ucap Bimo
"Dasar Bimo keadaan lagi genting gini sempet sempetnya mikirin makanan" jawab Doni
"Aku tidak berbohong, mari ikut aku dan kita buktikan apa kah benar pemburu itu ada di hutan kita atau tidak!" kata Dodo tegas dan yakin
Akhirnya mereka berlima mencari pemburu itu, mereka takut namun ini mereka lakukan untuk menjaga hutan yang indah ini, mereka membawa senjata senjata yang ada di rumahnya seperti sekop, tongkat kayu, dan lainnya.
"Manaa doo?? dimana kaki aku sakit nihh kelamaan jalan" ujar Lala
"Lebay banget sih laaa ini demi kebaikan, agar hutan ini tetep aman" jawab Doni
"Diam semuaa!! itu tuh ituu" ucap Dodo sambil menunjuk suatu bayangan
"Mari kita lihat lebih dekat dan tetap waspada!" ucap Lintang memimpin
Saat mereka mendekat dan terus menerus, alangkah mereka kagettt ternyata...... itu hanya sebuah bayangan pohon yang hampir tumbang
"Ampun ampun..." takutt Bimo
"Dodo!!! ini hanya sebuah pohon bukan pemburuu" kata Doni kesal
"Lain kali kalau ada sesuatu pastikan dulu do, jangan membuat orang ketakutan. Kalau begini tau kan? kita sudah heboh dan rusuh duluan namun ternyata hoax!" ujar Lintang tegas
"Maaf teman teman aku kira pohon ini pemburu karena bentuknya menyerupai pemburu. Iyaa lintang lain kali aku akan memastikannya dulu, maaf teman teman karena aku kalian jadi ketakutan" jawab Dodo merasa bersalah
"Ya sudah yang lalu biarlah berlalu, namun karena kejadian ini kita tau bahwa sisi lain hutan kita banyak pohon dan tanaman tidak terawat. Ayoo kita bersihkan dan tanam kembali tanaman indah ini" ujar Doni dengan semangat
Akhirnya mereka berlima membersihkan hutannya dan merawat hutan menjadi lebih indah dari sebelumnya, mereka menyadari bahwa dengan kerjasama mereka dapat melakukan sesuatu dengan berhasil.
6.Jenis karya : puisi
Nama penulis : Kalisha Anindia P.B
Kelompok : WS.Rendra
Judul : Cintaku Galau
Kalau hati sedang galau
Pikiran ini selalu kacau
Siang malam selalu resah
Hidup terasa dirundung masalah
Karena cinta semuanya berubah
Memikirkan dia hingga lelah
Membalas cintaku dia tak pernah
Bagaimana hati tidak gelisah
Ingin rasanya cintaku diterima
Tentu dalam hati akan bahagia
Merangkai bahtera rumah tangga
Setia selamanya hingga tua
Namun itu semua hanya impian
bahagia hanya sebatas angan
dia kini sudah menerima pinangan
besok tentu aku menerima undangan
7.Jenis karya : pantun
Nama penulis : Kalisha Anindia P.B
Kelompok : WS.Rendra
Jalan-jalan ke Prabumulih
Jangan lupa membeli delima
Belajarlah dengan sungguh-sungguh
Agar menjadi insan yang berguna
Berlari cepat mengejar waktu
Terlambat sudah tertinggal kereta
Pendidikan itu harus nomor satu
Bagi kemajuan bangsa kita
8.Jenis karya : pantun
Nama penulis : Desyifa Aira Azzahra
Kelompok : WS.Rendra
Pagi pagi naik becak
Perginya ke Blitar
Jika alam kita rusak
Masa depan akan hancur
9.Jenis karya : pantun
Nama penulis : Desyifa Aira Azzahra
Kelompok : WS.Rendra
Jalan jalan ke Kalimantan
Pulangnya membeli durian
Selamat pagi untuk kalian
Semoga hari ini menyenangkan
10.Jenis karya : puisi
Nama penulis : Desyifa Aira Azzahra
Kelompok : WS.Rendra
Judul : Pagi hari
Pagi hari
Ku buka mata di pagi hari ini
Melihat pemandangan alam yang begitu indah
Merasakan kesegaran yang begitu asri
Cahaya matahari bersinar dari timur
Menyinari bumi ku yang indah
Menghangatkan ku di pagi hari
Sungguh indah pagi hari ini
Ribuan pohon-pohon berjajar
Membentuk barisan dari barat ke ujung timur.
11.Jenis karya : pantun
Nama penulis : Nasha siti aly haliza
Kelompok : WS.Rendra
Pagi hari yang sangat hangat
Duduk di teras menyeduh jahe merah
Jadi orang harus semangat
Jangan sampai mudah menyerah
12.Jenis karya : pantun
Nama penulis : Nasha siti aly haliza
Kelompok : WS.Rendra
Tamasya ke Kota Surabaya
Jangan lupa beli alpukat
Buanglah sampah pada tempatnya
Bila ingin hidup sehat
13.Jenis karya : puisi
Nama penulis : Nasha siti aly haliza
Kelompok : WS.Rendra
Keindahan alam ini
Betapa indahnya negeri ini
Laut yang berombak ombak
Lereng yang bertingkat-tingkat
Angin berembus sepoi-sepoi
Berdiri aku di tepi pantai
Di bawah langit yang membentang
Merasakan negeri keindahan
Indonesia yang ku sayang
Beribu nikmat di dalamnya
Pemberian dari Tuhan Yang Esa
Agar bersyukur kita kepada-Nya.
Komentar
Posting Komentar