Karya Tulis Kelompok N.H Dini Bulan November (SMP Negeri 3 Padalarang).

Jenis karya : Fabel
Nama penulis : Nani Yuhaeni,S.Pd
Kelompok : N.H Dini
Judul : Anak Macan
Dongeng hadiah ulang tahun untuk “MojangAlit”ku
Di tepi sebuah telaga di tengah rimba raya berkumpulah para orang tua hewan. Sambil minum
sesuai dengan tempat yang telah mereka sepakati, mereka berbagi ceritadan kebanggaan yang
wajar tentang anak-anak mereka.
BundaAngsa : “Anakku sekarang ada empat lihatlah mereka sedangsenang-senangnya menari di
air, sebenarnya aku khawatir ada buaya jahat yang mengintainya, tapi biarlah takdir yang
menetapkan, karena hidup singkat dan disyukuri dengan bahagia lebih berarti daripada panjang
umur dalam keresahan dipenjara angan-angan.”
Mama Ayam: “Benar bunda, lihatlah anakku ada tersisa enam, sudah dua yang hilang atau
tersesat karena tidak bisa ku awasi semua, mereka lagi lincah lincahnya mencari makan sendiri,
saya sudah teriak-teriak untuk tidak jauh dari pandangan, tapi kadang mereka lupa bahwa
cerewetnya ibu adalah untuk keselamatan. Sedih rasanya kehilangan yang sangat kita saying tapi
kalau kita hanya terbelenggu dengan yang hilang, bagaimana dengan yang tersisa yang lebih
memerlukan perhatian dan perlindungan, saya harus focus kepada mereka supaya tidak pernah
lagi ada kehilangan.”
IbuKijang : “Musim ini aku membesarkan dua anak, syukurlah dua-duanya lincah di padang
rumput, takdir mereka memang sudah bisa berlari sesaat setelah lahir, tapi walaupun begitu
bukan berarti hidup lebih aman dan rejeki kebahagian lebih dari mereka yang harus menetas dari
telur, setiap mahluk lahir dengan ketentuan dan takdir yang telah ditentukan oleh tuhan yang
maha kuasa, mereka diberi bahagia dengan cara yang berbeda, rejeki dan kebahagian tidak akan
pernah tertukar.”
Sedang asyik-asyiknya mereka bercerita tiba-tiba datang Induk babi dan gerombolan anakanaknya.
“Minggir-minggir anak-anakku perlu tempat, area ku tidak cukup, lihatlah aku punya sembilan
anak.”
Ibu babi yang sombong itu melanjutkan teriakannya,.
“Lihatlah aku ibu yang baik, mengajarkan anak-anakku makan apa saja tidak peduli baik atau
buruk, anakku banyak dan gemuk-gemuk”
Tepi telaga yang tadinya tenang berubah menjadi gaduh, anak-anak babi yang tidak diajarkan
tata krama, masuk begitu saja ke dalam telaga membuat air yang tadinya jernih berubah jadi
kubangan lumpur yang teraduk-aduk oleh anak-anak babi.
Keluarga binatang lain merasa terganggu, tapi mereka tidak bisa berbuat banyak karena bukan
mereka yang mengatur kesepakatan tempat minum di tepi telaga tersebut. Melihat yang lain
minggir Babi tambah merasa berkuasa, sampai tiba-tiba terdengar suarageraman,.
“Grrmmm”..
Induk babi terkejut ia melihat ibu macan tua yang malas-malasan sedang duduk di batu agak jauh
dari tepi telaga, tapi dengan kesombongannya induk babi itu berkata:
“Hai,.Macan tua, sedang apa kamu di sana?”
“Kenapa tidak berkumpul di sini bercerita tentang anakmu, sudah tidak punya anak ya?”
Tambahnya dengan nada mengejek.
Macan tua itu bangkit, diikuti seeko ranaknya yang tadi tidak terliha dibalik batu. Anak macan
yang dengan lucu mengejar dan mempermainkan ekor ibunya, anak macan itu bermain tanpa
mempedulikan situasi sekitarnya yang sedikit riuh karena tingkah induk babi.
Dengan tenang Ibu Macan itu berkata“ Aku sudah tua, anakku yang besar sedang belajar
memulai hidup di tempat lain. Anakku disini hanya satu, Dia belum mengerti apa-apa,Dia hanya
satu tapi Anak Macan, satu anak macan yang akan menjaga ketentraman hutan dan telaga ini
untuk semua binatang”
“Aku tidak berkumpul karena tidak mau keisengan anakku mengganggu ketentraman yang lain”
Induk bab imulai gelisah.
“Jadi ajari anak-anakmu yang Sembilan untuk menghormati binatang lain jangan sampai mereka
diusir dari hutan ini oleh anakku yang akan meneruskan menjaga hutan ini”
“Anakku hanya satu tapi Anak Macan”!
Akhirnya Induk Babi dan Sembilan anaknya kembali ke area yang telah ditetapkan, dan binatang
lain dapat kembali menikmati telaga dengan damai.

Jenis karya :puisi
Nama penulis :Dina Rahma Aulia
Pembimbing :Nani yuhaeni, S.Pd
Kelompok :N.H.Dini
Judul : Pedang Bangsa

Jeritan jeritan yang menyayat Kulit-kulit yang disayat Jiwa yang gugur ditelan senjata
Hidup dengan gumpalan amarah
Darah darah yang tumpah 
Rela meninggalkan tulang rusuk tercintanya Demi bangsa yang ia puja Dengan gebyaran rasa semangat
Jiwa dan raga yang seakan terkunci
Bergeraklah engkau atas perjuangannya jejak yang meninggalkan sebuah istana tapak kakinya hendaklah kau naungi
.
Jenis karya : puisi
Nama penulis : Dina Rahma Aulia
Kelompok : N.H Dini
Judul : Jendela Dunia

Benda kecil yang tampak biasa itu
menjadi sebuah kunci kesuksesan
bagi ia yang mau mengetahuinya
Kertas dengan goresan tinta
bukan hanya kisah tapi tersimpan banyak pesan disana
kecil dan tipis nya kertas
bisa membawa ku ke dunia bebas
pengetahuan ku yang menjadi luas
sungguh elok dirimu untuk manusia
tanpamu aku hanyalah debu di dunia ini
tanpa ilmu bisa jadi apa diriku?
sungguh dirimu lebih mahal di banding berlian yang indah itu
taada kata bosan untuk membuka lembaran demi lembaran
jendela dunia ohh jendela dunia
sering lah kau buka lembaran itu karna kunci jendela agar dapat melihat ke mana arah jalan nya
.
Jenis karya : puisi
Nama penulis : Dina Rahma Aulia
Kelompok : N.H Dini
Judul : Elegi Kematian

Kain Putih yang tak kunanti
Batu ukir yang telah menyadarkanku
Langkah terakhir yang rapuh
Kini terbatas oleh tanah berbunga

Menatap tanpa bisa melihat
Sosok yang menjadi sebuah penopang
Irama yang amat kurindukan
Canda tawa yang menjadi cerita

Rumahku hancur dalam tangis
Nasehat-nasehat yang selalu menggema
Bangun kehilangan tulang rusuk
Sungguh menyayat hati kecilku
.
Jenis karya : puisi
Nama penulis : Ruth Evelin. H
Kelompok : N.H Dini
Judul : Hujan Menemaniku

Langit sudah gelap
Bumi mulai menangis
Air pun berjatuhan
Membasahi daratan

Hujan yang selalu menemaniku
Saat ku merasa sedih
Saat hatiku rapuh
Dan saat kusendirian

Hujan yang selalu
Menutup semua keseduhanku
Sengan rintik airnya
Sehingga aku terlihat baik baik saja
.
Jenis karya : puisi
Nama penulis : Reisha Khansa Salsabila
Kelompok : N.H Dini
Judul : Guruku

Untukmu..
Yang telah banyak berjasa padaku
Ingat lah pada mentari
Yang bersinar selalu..
Seperti hatimu yang kulihat tak pernah semu
Ingat lah pada bintang 
Yang menyinari malam selalu
Ingat padaku kala itu
Percayalah aku akan selalu disampingmu

Guruku
aku akan selalu membanggakan mu
Cahaya harapan ku
Ada di tangan mu
Bawalah aku bersama ilmu mu
Menuju firdaus yang menunggu
.
Jenis karya : puisi
Nama penulis : Wangi Isminissa
Kelompok : N.H Dini
Judul : Malam yang indah

Wahai sang malam.. 
Yang sangat indah dan sejuk
Yang di hiasi ribuan bintang
Dengan bulan yg terang menerang

Malam ku perlahan ku katakan indah
Dan ucap rindu pada seseorang
Saat ku sendiri 
Bulan bersinar itu menyapaku

Ku turunkan harapan 
Yang sangat berharga
Hingga ku tertidur lelap
Sampai ku bermimpi
.
Jenis karya : puisi
Nama penulis : Kalila salamatu sadiyah 
Kelompok : N.H Dini
Judul : Bumiku Menangis Lagi

Hari itu
Mentari seakan sedang menampakan kegagahannya
Bersinar terik membakar amarah
Membawa semangat yang tak kunjung padam

Tiba-tiba angin berdesir 
Menerpa pepohonan yang bergoyang
Mengajaknya menari
Dalam anggunnya sang mentari

Namun seakan bumi bergoyang
Burung-burung terbang
Membelah awan 
Berebutan tempat ternyaman

Bumi puni bergetar
Tanah mulai terbelah
Air yang mengamuk
Mengajak para penakut bertekuk lutut

Insan dibumi berlari 
Panik
Mencari tempat bersandar
Namun semua seakan akan tak peduli
Mereka belomba tuk selamatkan diri
Dari amukan sang gempa
Menyisakan tanah yang tak lagi sama
Bumiku kini menangis lagi
Lantas siapakah yang salah? 
Ya rabb
Sedikit KAU perlihatkan kuasaMu 
Bumiku kini menangis lagi

Komentar

Postingan populer dari blog ini

ARTIKEL : Gelora Minat Baca dalam Gerakan Literasi di Sekolah Oleh Tim Kacamata SMPN 3 Padalarang