Karya Tulis Kelompok N.H Dini Bulan Oktober (SMP Negeri 3 Padalarang).
Karya Tulis Kelompok N.H Dini
Bulan : Oktober
Guru pembimbing : Nani Yuhaeni,S.Pd
1.Jenis karya : Ceita Fabel
Penulis : Nani Yuhaeni,S.Pd
Kelompok : N.H.Dini
Judul : Bungsu yang Cerdas
Di tepi sebuah hutan tinggalah keluarga kelinci yang terdiri dari Ayah Ibu dan tiga ekor anaknya. Anak anak kelinci sedang masa bermain kadang membuat kedua orang tuanya cemas akan keselamatan mereka.
“Bu dimana anak-anak?” Tanya ayah sesaat pulang dari lading tempat ayah bercocok tanam.
“Tadi mereka bermain. Mungkin mereka bermain agak jauhdari rumah kadang mendekati lading manusia yang sekarang semakin mendekati tepi hutan kita” Jawab ibu kelinci.
“Itulah bu yang membuat ayah khawatir, anak-anak kita belum mengerti bahayanya mendekati lading manusia, ayah takut sesuatu hal yang buruk menimpa anak-anak kita”
Ayah menyampaikan kekhawatiran nya dengan nada cemas.
“Ibu juga khawatir, tapi kita harus bagaimana?”
“Ayah dengar tidak, anak tetangga kita yang bermain kesana, tidak kembali, kata teman temannya dia tertangkap manusia dan dijadikan mainan mereka”
Kedua orang tua kelinci itu menunggu dengan cemas anak-anak mereka pulang.
Hari hampir menjelang malam saat ketiga anak kelinci itu pulang.
Ayah yang sudah menunggu dari tadi langsung bertanya kepada ketiga anaknya.
“Kalian darimana bermain sampai sore begini?”
“Kami dari tepi ladang manusia” jawab Kaka seperti mewakili adik-adiknya.
“Kalian tidak tahu tempat itu sangat berbahaya” balas ayah dengan nada tinggi sedikit marah.
“Tapi di sana sayurannya bagus-bagus dan banyak macamnya” jawab si adik dengan polosnya.
Sementara si bungsu hanya mendekat ke ibunya sambil merajuk
“Bungsu hanya ikut saja Bu, soalnya kakak kakak bermainnya ke sana”
“Sudah yah, mereka cape. Ayo semua mandi nanti Ibu siapkan makan malam” Ibu menengahi pembicaraan mereka.
Malam sudah larut, anak-anak kelinci sudah tidur. Mereka terlelap karena lelah dan perut kenyang.
Mengetahui anak-anak mereka sudah tidur ayah kelinci mulai berbicara untuk menyampaikan rencananya ke ibu.
“Bu ladang manusia semakin mendekat ketempat kita, Bagaimana kalau kita ungsikan anak kita menjauh ketempat lain?” Tanya ayah memulai pembicaraan
“Maksud ayah bagaimana?,Kenapa tidak pindah saja dengan kita sekalian?” balas Ibu.
“Maksud ayah kita sementara tetap di sini, biarlah mereka belajar di hidup di tempat baru. Ayah sudah menemukan tempat yang bagus, subur dan ada danau di dekatnya.
Jadi ayah pastikan mereka akan aman dari manusia dan bisa hidup dengan baik”
Ibu sedikit termenung, ia belum rela melepas anak-anaknya menjauh, sementara kalau tetap disini, ancaman manusia semakin mendekat.
Akhirnya dengan berat hati Ibu menyetujui juga.
“Tapi bagaimana cara membujuk mereka pindah kesana?” Tanya ibu.
“Ayah sudah siapkan pondok di sana, Ayah akan ajak mereka bermain kesana, saat mereka bermain diam-diamakan ayah tinggalkan, mereka tidak akan tahu arah pulang kesini sebab ayah akan berputar-putar menuju kesana sehingga mereka lupa jalan” jawab ayah meyakinkan rencananya ke ibu.
Pagi-pagi semua anggota keluarga kelinci sudah bangun.
Kakak dan adik seperti biasa bermain berlari kesana kemari, hanya si bungsu yang terlihat agak berbeda dari yang lain, pagi ini terlihat agak pendiam.
“Anak-anak hari ini kita akan bermain ketempat yang jauh, disana ada danau, rumput yang segar,dan belum ada keluarga kelinci di sana” Kata Ayah.
“Horee..kita akan bermain air” jawab anak-anak serempak.
“Karena kalian akan bertamasya jauh, kalian boleh minta bekal apa saja” lanjut ibu.
“Horee..aku mau bekal wortel yang banyak” jawab si Kakak
“Aku mau sayuran saja” timpal si Adik
Sementara si Bungsu hanya terdiam saja.
“Bungsu kamu mau bawa apa?” Tanya Ibu.
“Ehm..Aku mau bawa kacang tanah saja” jawab si Bungsu setelah terlihat berpikir sejenak.
Setelah perbekalan mereka siap. Mereka berangkat mengarah ke dalam hutan yang menjauh dari tempat mereka dan ladang manusia.
Sepanjang jalan mrereka terlihat gembira karena banyak menemukan hal-hal baru yang sebelumnya tidak mereka ketahui.
Sekali kali mereka beristirahat sambil memakan bekal mereka.
“Ayah, tempatnya masih jauh?” Tanya kakak yang mulai tidak sabar.
“Iya ayah, kok jauh sekali” lanjut si Adik yang mulai kecapean.
“Sebentar lagi, itu lihat air danaunya sudah kelihatan, itu pondoknya” jawab ayah..
“Horee kita sampai” kata kakak sambil berlari menuju danau untuk bermain air.
Mereka tiba lewat tengah hari, sehingga pas untuk bermain air.
Cape bermain air mereka tidur-tiduran di bawah pohon yang rindang. Mereka bergembira bermain di tempat baru sehingga tanpa sadar ayah mereka telah menyelinap meninggalkan mereka.
Hari telah petang, mereka baru sadar saat ke pondok, ayah mereka tidak ada.
Kakak mulai panik, dia mencari kesana kemari.Adik mulai menangis. Hanya si Bungsu yang walaupun terlihat sedih tapi tidak cemas.
“Ayah sudah pulang duluan” katanya singkat.
Kakak dan adik terlihat kaget mendengar ucapan si Bungsu.
“Iya,. Ayah sudah merencanakan ini,Ia meninggalkan kita di sini”
Adik menangis tersedu sedu.
Kakak hanya terdiam membisu.
“Sebenarnya ayah dan ibu bermaksud baik, mereka tidak ingin kita bermain ke ladang manusia dan kita tertangkap seperti teman kita”
“Tapi aku ingin pulang” kata si Adik sambil menangis.
“Hari sudah malam dan kita tidak tahu jalan pulang” balas si Kaka.
“Sudah jangan menangis, malam ini kita tidur di pondok, besok kita pulang”
“Kamu tahu jalannya?” dengan nada keheranan Kakak bertanya kepada si Bungsu.
“Ya..mudahmudahan, rencana aku tidak gagal” jawab si Bungsu.
Akhirnya malam itu mereka tidur di pondok.
Pagi-pagi sekali mereka sudah bangun. Kakak dan Adik tidak sabar bagaimana caranya sibungsu dapat menemukan jalan pulang.
“Ayo Bungsu cepat tunjukkan jalan, mumpung hari masih pagi, perjalanan kita jauh kalau salah jalan dan terlambat pulang ke rumah kita bisa tersesat di hutan”
“Iya aku takut kita malah tersesat di hutan” kata si Adik menambahkan.
“Tenang, kita sebenarnya tidak terlalu jauh dari rumah dan aku sudah menandai jalan pulang karena aku mendengar rencana ayah ibu saat mereka mengira kita sudah tidur”
Lagi lagi kakak dan adik terkejut mendengar pengakuan si Bungsu.
“Ketika ibu menanyakan bekal apa yang mau dibawa tamasya, aku minta kacang,
Kita makan kacang sepanjang jalan, jadi pagi ini kita bisa mengikuti sisa kulit kacang yang kita buang”
Mendengar penuturan si bungsu, adik yang tadinya terlihat cemas sekarang terlihat semangat.
“Kamu memang cerdas Bungsu” kata kakak mengakui kepintaran si Bungsu.
Lewat tengah hari mereka sudah kembali kerumah.
Ibu terkejut melihat mereka pulang, dipeluknya mereka satu persatu.
Adik menangis. “Ibu aku ingin di sini bareng sama Ibu”
“Iya, Ibu juga sayang kalian, ibu hanya ingin kalian aman dari manusia”
“Iya Bu, saya janji tidak akan mengajak adik-adik bermain ke tempat ladang manusia lagi” kata Kakak.
Sesaat kemudian ayah pulang. Ayah kaget melihat siang hari anak-anaknya sudah berada di rumah kembali.
Setelah mendengar cerita dari ibu bagaimana mereka bisa pulang, baru ayah mengerti.
“Ternyata anak ayah cerdas ya..” kata ayah.
“Setelah persiapan yang cukup kita semua akan pindah kesana,tapi ayah ingatkan manusia lebih cerdas dan berbahaya jadi sementara kita disini, jauhi mereka”
“Ya ayah” Jawab mereka serempak.
Tamat.
2. Jenis karya : Puisi
Penulis :Dina Rahma aulia
Kelompok : N.H.Dini
Judul : Ibuku Pelitaku
Wanita terhebat adalah ibuku bunga tulip yang menggambarkannya senyuman manis dari bibirnya
tatapan sendu saat dia menatapku Ibu kaulah pedoman hidupku
Kaulah alasanku bisa sehebat ini
keringat yang tak kau hiraukan saat menjagaku
Berapa banyak air matamu yang menetes karena diriku
Betapa banyak perkataanku yang menyakitimu
Tidak Mengurangi rasa kasih sayangmu kepada diriku
Ibu kaulah pelita dalam kebimbanganku
kaulah tampet penopang dalam setiap kegagalanku
3.Jenis karya : Puisi
Penulis :Ruth Evelin
Kelompok : N.H.Dini
Judul : Rumahku
Rumahku yang indah
Saksi bisu masa kanakku
Tempat untuk melepaskan
Letih lesuh ku
Rumahku yang indah
Tempat dimana aku ditunggu
Selalu mendukung
Tanpa meninggalkanku
Rumahku yang indah
Tempat ku berlindung
Tempat peristirahatku
Ohh.. rumahku yang indah
.
4. Jenis karya : Puisi
Penulis : Wangi
Kelompok : N.H.Dini
Judul : Tanah Airku
Tanah airku
engkau lah tumpah darahku
Negara yang makmur
Negara yang yang bersatu
Tanah airku yang ku cinta
engkau lah tempat kelahiran ku
Keramahan rakyatnya
dan alam mu yang mempesona
Tanah airku
yang sejahtera
yang makmur
Kau lah hidupku
.
5. Jenis karya : Puisi
Penulis : Reisha Khansa Salsabila
Kelompok : N.H.Dini
Judul : Sahabat
Engkau bagai mentari
Yang selalu menghangatkan hari-hari ku
Engkau yang selalu ada untuk ku
Berbagi cerita tentang dunia
Kebaikan hatimu..
Semua tentang mu
Yang tak bisa kulukiskan
Senyumu
Senyumku
Tiada hari tanpamu
Terima kasih sahabat
Telah membawa warna dalam hidupku
.
6. Jenis karya : Puisi
Penulis : Kalila Salamatu Sa'diyah
Kelompok : N.H.Dini
Judul : Air
Biarkan air mengalir
Dari hulu hingga hilir
Jangan halangi air
Biarkan dia tetap hadir
Namun bukan menjadi banjir
Air mengalir ke hilir
Tak sama dengan angin yang semilir
Menjadi teman yang selalu terukir
Dan ada bersama takdir
Air mengalir sampai hilir
Mengalir seperti dzikir
Yang selalu terucap dari bibir
Membawa jiwa-jiwa pemikir
Menjadikan hidup indah terukir
Komentar
Posting Komentar